Every Trail Start Here-Pencarian Air terjun Batang Posan

Udah lama ngga ngeblog .hahaha
Berhubung saya sedang ikut #TheExtremeJourney dan ada tugas di nomor 53 untuk membuat tulisan berisi pengalaman petualangan tema "Every Trail Start Here", saya akan menceritakan pengalaman saat mengerjakan tugas akhir yang salah satunya untuk mencari sebuah air terjun yang bernama “Air Terjun Batang Posan”.
Dulu saat kuliah di Ekowisata IPB saya melakukan tugas akhir dengan tema Ekowisata Nagari(desa). Daerah yang menjadi penelitian saya tersebut adalah sebuah nagari yang bernama Nagari Lubuk Tarok dan terletak di Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat. Saya melakukan penelitian kurang lebih selama 3,5 bulan yaitu pada bulan Febuari-Juni 2013. Data yang harus saya ambil salah satunya adalah mengenai sumberdaya wisata alam. Dari data yang ada di terima dari kantor wali nagari (kalo di daerah lain namanya kantor desa) terdapat beberapa air terjun dan salah satunya adalah air terjun batang posan. Air terjun batang posan dahulu dikelola masyarakat namun kini sudah lama tidak dikelola.

Sepeda pinjaman yang digunakan selama PKL&TA 

Sebelum berangkat, saya mencari informasi mengenai keberadaan air terjun batang posan. Untuk menuju air terjun, tidak ada tanda petunjuk jalan seperti air terjun yang telah dikelola pada umunya. Saya diberitahu oleh petugas wali nagari, air terjun tersebut berada di jorong(dusun) Tigokorong. Dengan nekat saya berangkat sendiri tanpa ditemani masyarakat sekitar. Saya menggunakan sepeda pinjaman milik anak bapak walinagari.

Saya memasuki Nagari Tigokorong yang sebelumnya belum pernah saya datangi untuk penelitian. Kemudian saya bertanya pada orang-orang yang bertemu dijalan. Pada umunya mereka adalah petani karet yang baru pulang dari kebunnya. Saya menanyakan keberadaan air terjun batang posan. Berkali-kali orang-orang mengatakan “gilo anak ka pai ka situ pakai kareta”(gila kamu mau pergi ke sana pake sepeda). Mereka menyarankan untuk menggunakan motor untuk menuju ke sana. Namun saya melanjutkan perjalanan menuju air terjun. Ketika menemui tanjakan yang cukup terjal dan licin seusai hujan, saya berpapasan kembali dengan ibu-ibu yang pulang dari kebun. Saya menanyakan apakah masih jauh lokasi air terjun batang posan dan mereka menjawab “masih jauh” dan saya rasa tidak dapat melanjutkan.

Keinginan saya untuk sampai ke air terjun batang posan tidak terhenti begitu saja. Saya menanyakan pada masyarakat sekitar lokasi tersebut namun pada umumnya hanya mengetahui nama tetapi tidak tau tempat dan lokasinya dimana kerena belum pernah kesana. Kemudian Saya bertanya pada kepala jorong mengenai lokasi air terjun. Ia berkata “ikuti saja jalan tanah sampai habis sampai habis, turun menuju sungai kecil dan patokanya adalah sebuah pohon sawit yang berada di pinggir sungai”. “Kapan bapak terakhir kesana?” tanya saya. Pak jorong menjawab “terakhir pada saat saya dulu masih sekolah”. Waduh , dalam hati saya berkata apakah masih ada jalannya atau sudah tertutup oleh semak semak ?

Rinol dan motor pak wali 

Pada keberangkatan yang kedua ini saya berangkat dengan Rinol yang merupakan anak pak walinagari, yang menjadi teman dan adik saya selama PKL dan penelitian Tugas Akhir. Saya berangkat menggunakan motor dinas pinjaman dari pak walinagari. Dengan persiapan seadanya seperti air, makanan ringan, pakaian ganti dan kamera saya berangkat menuju air terjun batang posan. Kemudian kami berangkat setelah jam salat dzuhur.


Saat perjalanan menuju air terjun, terjadi beberapa kendala. Jalanan setapak yang dapat di lalui motor dari tanah merah cukup licin, hal diakibatkan oleh hujan hari sebelumnya, ngakibatkan kami terjatuh 2 kali dari motor. Kemudian jalanan yang turun naik bukit dan beberapa kali saya kebingungan kerena jalanan telah tertutup ilalang yang tinggi dan ada beberapa jalan setapak kecil seperti jalan untuk menuju kebun karet. Kemudia saya hanya mengandalkan petunjuk dari bapak jorong membuat saya was-was.


Ketika kami kebingungan, saya coba mencari jalan dengan mendengar suara air, karena bila ada suara air berarti didekat lokasi terdapat sumber air seperti sungai. Dalam perjalanan kami menyusuri kebun karet masyarakat dan hutan. saya melihat beberapa tempat yang digunduli dan dibakar untuk dijadikan lahan karet baru ataupun lahan sawit saya sangat merasa miris sekali.

Setelah bertemu dengan sungai kecil, saya menaruh motor karena medannya sudah tidak memungkinkan untuk mengunakan motor. Waktu perjalanan dari awal hingga sungai kecil sekitar 30 menit. Kami lanjutkan perjalanan untuk mencari air terjun. Saya terus mengikuti jalan setapak yang landai dan terus menanjak dan saya cukup kebingungan dengan jalan bercabang yang cukup banyak. Saya memilih untuk terus berjalan, setelah berjalan cukup jauh kami menemukan jalan turunan landai. Saat kami menyusuri jalan tidak terdengar lagi suara air.

Saya merasa kami telah tersesat, namun saya teruskan berjalan. Di tengah jalan saya bertemu dengan seorang bapak yang sedang mengangkut tumbuhan menjalar yang akan dijadikan tali kincir air. Saya sempat takut apakah bapak ini orang atau bukan karena berada di tengah hutan yang sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Bapak pencari tumbuhan menjalar untuk Tali Kincir air 

Saya menanyakan dimana lokasi air terjun, bapak tersebut mengatakan kami sudah jauh tersesat kedalam hutan. Saya merasa beruntung bertemu bapak ini. Bapak itu mengatakan jalan menuju air terjun berada sekitar sungai kecil di bawah tadi. Kemudian bapak tersebut menawarkan untuk menunjukkan jalan karena ia juga akan melewati jalan menuju sungai kecil.

Setibanya dipersimpangan jalan menuju air terjun bapak tersebut menunjukan arah jalan-jalan dengan patokan ada sebatang sawit di tepi sungai kecil dan berjalan ke “ilie(hilir)”. Kemudian kami berpisah dan saya melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sebatang sawit yang dijadikan patokan tadi saya cukup bingung dan saya terus melanjutkan perjalanan dengan memasuki kebun masyarakat yang tidak terawat. Hamparan kebun tersebut tertutupi dengan ilalang yang tingginya seleher, cukup menyulitkan untuk melakukan perjalanan. Setelah berjalan melewati beberapa kebun yang dibatasi papan kayu yang telah lapuk, saya merasa pergi ke tempat yang salah. Saya menyesal tidak menggunakan baju panjang atau jaket karena tangan saya luka-luka akibat ilalang yang menyayat di kulit. Dan Saya kembali tersesat.


Kami kembali ke sebatang sawit yang terdapat di tepi sungai. saya mengingat pesan bapak yang bertemu di hutan tadi untuk pergi ke “ilie”. Saya menanyakan pada Rinol “ilie itu apa?”. Ternyata artinya adalah hilir. Hari semakin sore dan rinol mengajak untuk pulang karena sudah lelah karena telah beberapa kali tersesat. Namun saya masih ingin mencari air terjun itu dimana.

Saya memutuskan untuk menyusuri sungai ke arah hilir. Kami menyusuri sungai dengan cukup sulit karena pada bagian bawah air sungai terdapat lapisan seperti lumpur. Air yang dilewati mulai sebatas betis hingga sepinggang. Ditengah perjalanan karena tidak bertemu juga dengan air terjun Rinol berkata “bang kita pulang saja”. Saya masih bertekat untuk menemukan air terjun. Saya melihat kearah hilir aliran sungai dan menunjuk sebuah pohon jenis palm yang tumbuh lebih tinggi dari pohon disekitarnya, dan berkata “ ampai pohon itu kita berjalan, jika tidak menemukan air terjun, maka kita pulang”.

Sesampainya didekat pohon tadi kami mendengar suara aliran air yang cukup deras dan saya berkata bahwa air terjun tertelah dekat. Ternyata benar, didekat tumbuhan palm tersebut terdapat air terjun. Dan kami berdiri di atas air terjun batang posan. Saya ingin sekali untuk turun namun tidak melihat ada tempat untuk turun. Kami melihat sekitar, ada jalan setapak kecil. Kami mengikuti jalan tersebut dan ternyata jalan menuju ke lokasi air terjun sangat terjal dengan berjalan diakar akar pohon yang tumbuh disekitar tebing. Berjalan kebawah sangatlah sulit karena tanah dan akar pohon sangat licin untuk diinjak, dan terkadang saya menggunakan kekuatan tangan untuk menahan agar tidak terjatuh ke bawah jurang tempat air terjun.

Air terjun Batang Posan 

Sesampainya di bawah, saya sangat puas karena telah lelah saya terbayarkan dengan sampai di air terjun batang posan. Sesamapainya di sana saya mengabadikan dan mendokumentasikan untuk dimasukan dalam laporan TA saya. Dan kemudian bernarsis sedikit. Saya sangat senang karena saya serasa punya air terjun sendiri. 

Narsis dikit 

Saya melihat jam dan telah menujukkan pukul setengah lima sore. Ternyata kami cukup menghabiskan banyak waktu karena sering tersesat. Dan kami pulang menuju rumah tempat saya menumpang didesa,di rumah wali nagari. Kami sampai sesaat sebelum waktu shalat magrib. Saya sangat puas dan bangga dengan perjalanan tersebut karena ternyata banyak masyarakat yang belum pernah kesana dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya.

“Saya sangat sering tersesat dan itu sangat menyenagkan, bila tidak tersesat kita tidak akan mengetahui sesuatu yang baru”.

“Jika tersesat ingatlah Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan jalan keluar”

Teruslah berpetualang karena petualangan membuat hidup lebih berwarna

Terimakasih untuk membaca postingan saya-saya sangat berterimakasih

Bila ingin melihat petualangan saya yang lain di Nagari Lubuk Tarok, bisa lihat video disini

7 comments:

  1. Eh, tos! Sama-sama anak IPB. :)
    Jadi inget, dulu pernah cari sumber air panas di Toraja sampai nyasar juga, walaupun ga separah kamu. Pas akhirnya ketemu, ketawa-ketawa sendiri. Nemu kolam renang dengan sumber air panasnya dari pipa paralon kecil, semacam shower gitu. Cuma 1, direbutin banyak orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sungkem saya ama kakak senior :)
      terimakasih telah membaca postingan saya kak

      Delete
  2. Petualanganmu keren Bang! :D

    Sayang kurang banyak foto-fotonya, hehehe. Diriku juga suka (terobsesi malah) mencari air terjun dan rata-rata ya... naik sepeda, hahaha.

    Kalau membayangkan ceritamu yang medan ke sana berat banget, ya wajar kalau warga menjadi "malas" untuk mengelolanya. Mungkin kalau ada bantuan perbaikan fasilitas menuju ke air terjun, warga jadi semangat lagi untuk mengelola.

    Miris aja gitu, mendengar ada obyek yang dulu dikelola tapi sekarang malah nggak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih mas, mudah-mudahan kedepannya bisa ambil foto yang banyak saat perjalanan :)
      terimakasih telah membaca postingan saya

      Delete
  3. Seneng banget ya bisa main di air terjun tuh, jadi inget pas main di air terjun Lembah Harau :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, kalo udah ketemu air terjun pengen nya nyebur mas :)
      terimakasih telah membaca postingan saya mas

      Delete